CARING!!!

Posted: 23 Desember 2013 in Tak Berkategori

Dalam dunia keperawatan dan kesehatan, caring sudah bukan kata yang asing. Caring sendiri memiliki banyak definisi menurut banyak ahli. Caring adalah inti dari keperawatan yang mana tanpa caring ilmu keperawatan takkan bisa diterapkan. Caring diibaratkan seperti sebuah kulkas yang berisi buah-buahan yang indah didalamnya. Buah-buah tersebut adalah ilmu keperawatan. Jika kulkas tersebut dikunci, tak ditunjukkan dan diberikan manfaatnya maka buah-buahan tersebut tak akan berguna. Begitu juga dengan ilmu keperawatan yang tak dilandasi caring. Ilmu caring begitu susah diterapkan tapi begitu indah dirasakan. Dengan caring juga, profesi perawat menjadi begitu terhormat.

Caring sendiri bersifat spesifik dan bergantung hubungan antara perawat dan klien. Spesifik disini adalah bahwa tak semua manusia memiliki sifat dan latar belakang yang sama sehingga setiap orang meiliki keunikan tersinidiri mengharuskan kita, perawat, untuk menspesifikkan manusia sebagai sesuatu yang uth dan berbeda. Sesuatu yang tak bisa kita samakan dengan orang lain tergantung dari sifat, latar belakang, dan faktor-faktor lainnya. Leininger (1988) menekankan pentingnya pemahaman perawat tentang pelayanan kultural. Meksipun caring adalah suatu yang bersikap universal, tetapi ungkapan, proses, dan bentuk pelayanan tiap kultur berbeda.

Dalam caring, perawat perlu mempelajari budaya, sifat, dan berbagai kebiasan pasien lainnya untuk membantu penyembuhan pasien tersebut. Seperti teori Watson tentang caring (1979,1988) bahwa caring adlah model holistik keperawatan yang menyebutkan bahwa tujuan caring adalah untuk membantu atau mendukung proses penyembuhan pasien secara total (Hoover, 2002).

Teori caring Kristen Swanson (1991) adalah ada lima proses pelayanan: mengetahui, melakukan bersama, mengerjakan untuk, kemampuan, dan mengatasi kepercayaan.

Teori yang mendasar dari caring adalah human care. Menurut Pasquali dan Arnold (1989) serta Watson (1979), human care terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga atau mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan keberadaannya serta membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri.

Watson (1979) yang terkenal dengan Theory of Human Care, mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan melindungi pasien sebagai manusia, dengan demikian mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh .

Mayehoff memandang caring sebagai suatu proses yang berorientasi pada tujuan membantu orang lain bertumbuh dan mengaktualisasikan diri. Mayehoff juga memperkenalkan sifat-sifat caring seperti sabar, jujur, rendah hati. Sedangkan Sobel mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain.

Watson juga menekankan dalam sikap caring ini harus tercermin sepuluh faktor karatif yang berasal dari perpaduan nilai-nilai humanistik dengan ilmu pengetahuan dasar. Faktor karatif membantu perawat untuk menghargai manusia dari dimensi pekerjaan perawat, kehidupan, dan dari pengalaman nyata berinteraksi dengan orang lain sehingga tercapai kepuasan dalam melayani dan membantu klien. Sepuluh faktor karatif tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Pembentukan sistem nilai humanistik dan altruistic.
  2. Memberikan kepercayaan-harapan dengan cara memfasilitasi dan meningkatkan asuhan keperawatan yang holistik. Di samping itu, perawat meningkatkan perilaku klien dalam mencari pertolongan kesehatan
  3. Menumbuhkan kesensitifan terhadap diri dan orang lain.
  4. Mengembangkan hubungan saling percaya.
  5. Meningkatkan dan menerima ekspresi perasaan positif dan negatif klien. Perawat memberikan waktunya dengan mendengarkan semua keluhan dan perasaan klien.
  6. Penggunaan sistematis metoda penyelesaian masalah untuk pengambilan keputusan. Perawat menggunakan metoda proses keperawatan sebagai pola pikir dan pendekatan asuhan kepada klien.
  7. Peningkatan pembelajaran dan pengajaran interpersonal, memberikan asuhan mandiri, menetapkan kebutuhan personal, dan memberikan kesempatan untuk pertumbuhan personal klien.
  8. Menciptakan lingkungan fisik, mental, sosiokultural, dan spritual yang mendukung. Perawat perlu mengenali pengaruh lingkungan internal dan eksternal klien terhadap kesehatan dan kondisi penyakit klien.
  9. Memberi bimbingan dalam memuaskan kebutuhan manusiawi.
  10. Mengijinkan terjadinya tekanan yang bersifat fenomenologis agar pertumbuhan diri dan kematangan jiwa klien dapat dicapai. Kadang-kadang seorang klien perlu dihadapkan pada pengalaman/pemikiran yang bersifat profokatif. Tujuannya adalah agar dapat meningkatkan pemahaman lebih mendalam tentang diri sendiri (Julia, 1995).

References

http://staff.undip.ac.id/psikfk/meidiana/2010/06/04/konsep-caring/. (n.d.).

Potter, P.A., dan Perry, A.G., (1989). Fundamental Keperawatan konsep, proses dan praktik. (2 nd ed). Jakarta: EGC

Altruime dalam sehari-hari.

Posted: 23 Desember 2013 in Tak Berkategori

Pada tengah malam hari, saya sedang mengendarai motor. Dalam perjalanan, ada seorang yang sedang mendorong motornya. Saat saya tanyakan kenapa, ia menjawab bahwa motornya kehabisan bensin. Saya yang merasa harus membantunya, kemudian memacu motor saya kencang-kencang, mencari tempat penjualan bensin terdekat. Kemudian kembali ke tempat orang tadi dan memberikan bensin tersebut kepadanya.  

Empati kepada klien.

Posted: 23 Desember 2013 in Tak Berkategori

Disini ada beberapa contoh kasus mengenai emapti. Perhatikanlah dan lihat perbedaannya!

KASUS I:

Claire tinggal di sebuah rumah dengan tiga orang wanita lain. Meski mereka memiliki kesulitan dalam belajar, tapi mereka mampu untuk mencukupi kehidupannya mereka sendiri. John, seorang perawat komunitas, berkunjung secara rutin untuk membantu manajemen sehari-hari mereka dan menawarkan dukungan serta dorongan. Akhir-akhir ini john membantu Claire untuk mengembangkan kontak sosialnya dengan orang di luar rumahnya. Akhirnya, Claire memutuskan untuk menghadiri pertemuan kelompok gereja lokal untuk pertama kalinya. Pada kunjungan john berikutnya terjadi percakapan sebagai berikut:

Claire: (sangat sedih) “Saya sangat kecewa. Saya terlalu takut untuk pergi. Saya tidak mampu menghadapinya.”

John: (nada suara menenangkan) “Tidak apa. Masih ada minggu depan. Di saat itu, kamu akan merasa lebih baik.”

Respons john datang dari posisi peduli dan niat baik tetapi lebih bersifat simpatik daripada empatik. Karena john gagal merefleksikan kekecewaan Claire dan berbicara dari posisi harapan dan optimis.

KASUS II:

Tuan Vincent telah merawat Tuan Pierce sejak ia masuk rumah sakit kemarin. Tuan Pierce dijadwalkan untuk menjalani bedah jantung. Tuan Vincent memasuki ruangan klien, melakukan kontak mata dengannya dan duduk dikursi samping tempat tidurnya. Terjadilah percakapan berikut:

Tuan Vincent: Hallo, Tuan Pierce. Anda tampak seperti sedang merenung.

Tuan Pierce: memang. Saya sedang berpikir apa yang akan terjadi besok.

Tuan Vincent: apakah anda ingin membicarakan pembedahan anda? Say rasa anda pasti punya banyak pertanyaan.

Tuan Pierce: ya, saya ingin tahu lebih banyak lagi.

Dari kasus I dan II dapat kita lihat perbedaannya. Kasus I hanya melihat sisi optimisnya dan harapan tanpa memberikan dukungan untuk meyakinkan pasien bahwa ia bisa menjalaninya. Sedangkan pada kasus II dia memberikan rasa nyaman dengan memberitahukan tentang operasi pada klien. Sehingga pasien menjadi yakin bahwa ia bisa melakukannya.

Caring dalam penerapannya.

Posted: 23 Desember 2013 in Tak Berkategori

 

 

 

 

 Image   Dalam sebuah rumah sakit, ada beberapa perawat yang bertugas ketika itu. Tapi yang lebih menonjol diantara sekian perawat hanya ada dua yang menjadi sorotan. Perawat pertama ia begitu kasar pada pasien. Jika pasien tidak mengikuti anjurannya atau susah sekali dirawat, maka ia akan menggerutu dan mengeluh. Tanpa mempedulikan pasien akan sembuh atau tidak. Sedangkan perawat kedua, ia begitu ramah dan murah senyum dengan pasien. Ia selalu sabar dalam menghadapi pasien dan memberi perhatian yang lebih. Yang menjadi pertanyaan faktor apa yang paling mempengaruhi dua perawat tersebut? Apakah karena sudah sifat alamiah kedua perawat tersebut?

Dalam konteks ini, kita tahu bahwa caring adalah inti dari ilmu keperawatan. Karena tanpa rasa caring (peduli) perawat takkan bisa menjalankan atau menerapkan segala ilmu yang telah ia pelajari. Tanpa caring, perawat takkan bisa menujukkan sikap sabar dan penyayangnya.

Altruism’s video

Posted: 22 Desember 2013 in Tak Berkategori

caring in nursing practice

Posted: 22 Desember 2013 in Tak Berkategori

Empati dan Simpati???

Posted: 20 Desember 2013 in Tak Berkategori

EMPATI DAN SIMPATI

asaada

Empati telah diterima secara luas sebagai salah satu komponen yang membantu proses kesembuhan pasien. Empathy menurut kamus keperawatan adalah turut merasakan perasaan orang lain atau dapat memahami orang lain. Empati adalah kemampuan untuk mencoba memahami dan merasuki kerangka referensi klien (Habber et al, 1994). Dengan demikian, empati dapat diartikan sebagai merasakan, memahami, dan menerima apa yang dirasakan klien, dimulai dengan masalah yang dihadapi klien dengan pandangan yang adil, sensitif, dan objektif untuk melihat pengalaman yang dimiliki orang lain.

Empati seringkali dilihat sebagai komponen paling penting dalam hal penolongan. Carkhuff (1970) mengatakan bahwa tanpa empati, tidak ada dasar untuk menolong. Kalisch (1971) merumuskan empati sebagai ‘kemampuan untuk merasakan dunia klien seolah-olah itu adalah dunianya sendiri, tetapi tanpa kehilangan untuk melihat perbedaanya’ (Kalisch 1971, hlm. 203).

Empati membantu klien untuk menjelaskan dan mengkaji perasaan mereka sehingga pemecahan maslah dapat terjadi. Untuk menumbuhkan empati dalam suatu hubungan, tentu membutuhkan waktu. Perawat tidak dapat secara langsung memahami perasaan atau pengalaman klien.

Pertama-tama, kita perlu mengerti dunia klien seakan-akan kita sendiri berada didalamnya, berusaha melihatnya dengan mata pasien tetapi tetap berada di dunia kita sendiri. Dengan begini, penolong tetap berada dalam posisi menolong—cukup dekat dengan pengalaman klien sehingga bisa melihat perbedaannya sementara mempertahankan objektivitas agar tetap bisa bertahan pada proses dan tidak menjadi terlalu terbebani. Penting juga untuk para penolong untuk bukan saja memahami dari sudut pandang klien tetapi juga secara aktif mengkomunikasikan pemahaman ini kepada klien melalui penggunaan komunikasi yang terampil. Dalam artian ini, empati melibatkan unsur sikap sekaligus unsur perilaku tetapi harus tetap mempertahankan sikap kita sebagai seorang penolong.

imagesBerbeda dengan empati, simpati adalah ekspresi perasaan seseorang mengenai keadaan sulit yang lain. Simpati merupakan perasaan perhatian, kesedihan atau rasa kasihan yang ditunjukkan oleh perawat kepada klien dimana kebutuhan klien dilihat sebagai kebutuhan perawat. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan karena mencegah terjalinnya hubungan saling membantu yang efektif. Karena jika kita terlalu merasakan apa yang dirasakan oleh pasien bisa-bisa posisi kita yang seharusnya sebagai penolong malah berbalik menjadi seseorang yang harus ditolong seperti halnya pasien kita. Sehingga kita tak bisa menolong pasien kita sendiri.

Empati dan simpati memiliki perbedaan yang mendasar. Jika simpati adalah ekspresi perasaan seseorang, maka empati adalah aplikasi dari perasaan tersebut. Jika seimpati hany sebuah perasaan, maka empati adalah sebuah tindakan.

Simpati juga merupakan faktor yang penting dalam interaksi sosial. Dapat dirumuskan bahwa simpati aladah tertariknya perasaan seseorang terhadap orang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasionalis, tetapi berdasarkan penilaian perasaan, seperti halnya identifikasi. Tapi, bedanya simpati dan identifikasi adalah, timbulnya simpati itu merupakan proses yang sadar bagi diri manusia yang merasa simpati terhadap orang lain. Sedangkan identifikasi merupakan proses  ketertarikan secara tak sadar bagi diri manusia. Simpati menghubungkan orang yang satu dengan orang lain; sebaliknya perasaan antipati cenderung untuk menghambat atau meniadakan sama sekali pergaulan antar orang.

Peranan simpati cukup nyata dalam hubungan persahabatanantara dua atau lebih orang. Hubungan tersebut yang awalnya muncul secara perlahan lama-lama akan menjadi besar. Patut diingat, bahwa simpati dapat pula berkembang perlahan-lahan disamping simpatiyang timbul dengan tiba-tiba.

Antara simpati dan identifikasi sebenarnya memiliki hubungan yang berdekatan, tetapi dengan motivasi atau dorongan utama yang berbeda. Pada simpati, dorongan utamanya adalah ingin mengerti dan ingin kerja sama dengan orang lain. Sedangkan pada identifikasi adalah untuk mengikuti jejaknya atau mencontoh dan belajar dari orang lain yang dianggap olehnya ideal. Jadi, perbedaan dari simpati dan identifikasi adalah secara sadar dan tidak sadar.

References

Editor: Roger B. Ellis, Robert J. Gates, Neil Kenworthy. (2000). komunikasi interpersonal dalam keperawatan: teori dan praktik. Jakarta: penerbit buku kedokteran EGC.

Potte & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC.

PSYCH, D. W. (1991). psikologi sosisal. Bandung: PT ERESCO.

Altruisme

Posted: 18 Desember 2013 in Tak Berkategori
  1. MAKNA ALTRUISME

Altruisme adalah kata yang berasal dari bahasa Latin alteri huic yang berarti “untuk orang lain” dan definisi harfiahnya adalah untuk mengekspresikan penghargaan pada orang lain sebagai sebuah prinsip dalam melakukan tindakan (Oxford English Dictionary). Praktik keperawatan sering dikaitkan dengan berbagai faktor kehidupan. Dari hal agama, gender, dan lain sebagainya. Tapi jika kita simpulkan semua hubungan tersebut, praktik keperawatan pada dasarnya adalah altruistik dimana masyarakat tertarik pada profesional karena mereka berharap untuk ikut berkontribusi dalam perawatan terhadap orang yang sakit. Simpulannya, altruisme adalah suatu sifat suka rela dari masyarakat atau seseorang untuk berkontribusi dalam suatu profesi.

ahahaha

PERILAKU ALTRUISTIK

Perilaku altruistik lebih mengarah pada perilaku yang berasal dari inisiatif seseorang karena melihat situiasi orang lain atau lingkungan sekitarnya. Altruisme sendiri kadang-kadang sulitb dihargai secara sempurna karena karena abstrak dan tidak dapat dinyatakan secara jelas, dan secara normal terjadi secara sadar. Altruisme juga kelihatannya berlawan dengan banyak teori tingkah laku manusia. Karenanya, altruisme memberi fokus untuk penelitian secara antropologi, psikoloogi, dan biologi. Seperti contoh perilaku altruistik hewan yang melindungi hewan yang lemah, berlawan dengan teori darwin dalam hal “survival for the fittest”. Tapi, ahli biologi akan menyatakan altruisme cocok dalam gambaran sebagai untaian lain dalam proses evolusi secara keseluruhan. Karena altruistik yang alamiah dilibatkan dengan seleksi alam untuk menjamin perjuangan spesies tersebut.

Sedangkan dalam teori psikologi, masih terus diperdebatkan tentang faktor-faktor yang memotivasi perilaku altruisktik. Penelitian Davis (1983) menyatakan sebuah korelasi langsung antara sejumlah respon manusia yang alamiah terhadap tingkah laku altruistik. Respon-respon ini mencakup simpati, empati, dan tanggung jawab sosial.

Altruisme sendiri menjadi dasar dalam melakukan kegiatan yang berbau sosial. Seperti donor darah, perawatan sukarela, penyediaan perawatan kesehatan, dan tentu saja dalam bidang keperawatan itu sendiri. Altruisme di kalangan masyarakat tidak hanya datang dari masyarakat itu sendiri tapi juga dari pemerintah. Dan ternyata, sikap altruisme pemerintah bergantung dengan sifat altruisme dari masyarakat. Altruisme masyarakat yang tinggi menjadikan pemerintah yang memiliki altruisme yang tinggi pula.

Dalam studi Titmuss (1973), sejumlah responden menjawab pertanyaan “Tindakan apa yang seharusnya memelihara altruisme?” adalah: “Pada tingkat yang lebih besar atau lebih sedikit, keberadaan altruisme dan keperawatan informal adalah bagian dari struktur sosial dalam masyarakat saat ini”. Ini sangat penting untuk keberlangsungan apa yang dinamakan sebuah komunitas yang merawat dan merefleksikan sebuah integrasi sosial yang keduanya merupakan hasil dari, dan sebuah prasyarat untuk keadaan sejahtera seperti yang didesain oleh William Beverdidge pada tahun 1940-an. Reisman (1976) menyatakan bahwa jika hadiah bebas dari masyarakat menjadi barang-barang untuk konsumsi komersial belaka, maka seseorang akan menanyakan tentang kebutuhan pelayanan kesejahteraan yang sekarang ini disediakan, termasuk pendidikan universal, kesehatan, dan pelayanan sosial. Jika pelayanan ini dibiarkan menjadi kekuatan pasar, maka konsekuensi tentang tanggung jawab menjadi hilang, dan kebijakan sosial kemudian dapat menjadi kebijakan ekonomi (Titmuss, 1963).

References

Lynn Basford & Oliver Slevin. (2006). Teori dan praktik keperawatan, pendekatan integral pada asuhan pasien. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.